2 - 5 SEP 2026

Jakarta International Expo

Mengejar Nilai Tambah Nikel, Indonesia Bangun Kemandirian Teknologi di Industri Baterai

Sumber: BRIN

Dalam auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta, pada Senin 10 Agustus 2026 tepat dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31, Aditya Farhan Arif, Presiden Direktur PT Industri Baterai Indonesia (IBC), menyampaikan kuliah umum yang membedah potensi sekaligus tantangan nyata Indonesia di industri baterai global.

Ia mengatakan Indonesia memiliki modal yang luar biasa. Yang dimaksud adalah Indonesia menjadi nomor satu dunia dalam cadangan dan produksi nikel dengan mineral yang menjadi komponen kunci elektrode baterai lithium-ion berperforma tinggi dan aluminium di peringkat keempat dunia. Selain itu, tembaga sebagai komoditas strategis pelengkap dan ditambah pasar kendaraan listrik domestik yang tumbuh pesat dan ekosistem riset yang terus diperkuat melalui lembaga seperti BRIN dan program talenta LPDP.

Pergeseran Teknologi yang Mengubah Segalanya 

Salah satu pelajaran penting yang disampaikan Aditya adalah cepatnya perubahan teknologi dan pasar baterai. Pergeseran teknologi dari NMC ke LFP terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan industri. Pada 2021, NMC diproyeksikan mendominasi sekitar 80% pasar baterai global. Kondisi tersebut membuat Indonesia dengan cadangan nikelnya dipandang memiliki peluang besar dalam rantai pasok baterai.

Namun, realitas pada 2025 menunjukkan arah yang berbeda. LFP justru mendominasi pasar EV Indonesia, dengan sekitar 96% kendaraan listrik menggunakan teknologi tersebut, sementara NMC hanya sekitar 4%. Pergeseran ini membuat industri perlu meninjau kembali investasi, rantai pasok material, fasilitas produksi, dan strategi bisnis yang sebelumnya dibangun berdasarkan asumsi dominasi NMC.

“Ini menjadi pembelajaran bahwa investasi industri harus berjalan bersama dengan kemampuan inovasi. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan negara lain.” ujar Aditya Farhan Arif, Presdir PT Industri Baterai Indonesia.

Dua Teknologi Baterai Generasi Berikutnya yang Harus Dikuasai 

Untuk tidak terjebak dalam siklus yang sama dengan mengikuti teknologi orang lain dan terlambat merespons perubahan, Indonesia perlu mulai membangun kemampuan di teknologi baterai generasi berikutnya sejak sekarang. Aditya menyebut dua kandidat utama yang memiliki peluang paling besar: 

AspekSolid-State BatterySodium-Ion Battery
Kelebihan UtamaKepadatan energi sangat tinggi, keamanan superiorBahan baku murah & melimpah, tanpa litium
Relevansi bagi RIEV premium, jarak jauh, keamanan tinggiEV terjangkau, bisa kurangi keterg. litium impor
Kesiapan TeknologiMasih dalam fase komersialisasi awalSudah ada produk komersial pertama
Target HargaTarget bersama: di bawah USD 100/kWh vs harga pasar saat ini ~USD 150/kWhTarget bersama: di bawah USD 100/kWh vs harga pasar saat ini ~USD 150/kWh

Valley of Death: Jurang yang Memisahkan Lab dan Pabrik 

Tantangan terbesar dalam membangun ekosistem riset dan industri Indonesia bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga adanya “valley of death”, yaitu kesenjangan antara hasil riset di laboratorium dan teknologi yang siap dikomersialkan. Setelah melewati tahap riset dasar dan pilot plant, teknologi masih harus dibuktikan melalui skala demonstrasi sebelum mampu menarik investasi besar. 

Pada tahap inilah banyak inovasi baterai Indonesia terhenti karena belum cukup matang bagi investor, sementara dukungan pendanaan riset dasar sudah tidak lagi tersedia. Menurut Aditya, tata kelola riset perlu memberi ruang bagi proses kegagalan dan iterasi agar peneliti tidak hanya mengejar riset yang mudah dipublikasikan, sekaligus tetap menjaga riset dasar sebagai fondasi inovasi jangka panjang. 

Menuju Kemandirian Teknologi Baterai 

Meski tantangannya besar, Aditya melihat jalur yang konkret menuju kemandirian teknologi baterai Indonesia. Fokusnya perlu bergeser dari sekadar membangun pabrik menjadi membangun kemampuan nasional melalui kolaborasi riset dan industri, pengembangan joint intellectual property, pusat R&D berskala besar, serta pengembangan talenta spesifik seperti ilmuwan material dan insinyur elektrokimia. Indonesia juga perlu memperkuat kemampuan membaca perubahan teknologi lebih awal, sekaligus membangun tata kelola riset yang memberi ruang bagi kegagalan dan iterasi.

Tujuan akhirnya bukan sekadar meningkatkan kapasitas produksi atau ekspor produk baterai, melainkan menguasai teknologi, intellectual property, proses produksi, dan inovasi secara berkelanjutan. Dengan target harga baterai sekitar USD 100 per kWh, dukungan BRIN dan LPDP, serta pengembangan rantai nilai dari hulu hingga hilir, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem baterai yang tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan kemampuan teknologi nasional.

Ingin mengetahui lebih banyak tren, inovasi teknologi, serta strategi efisiensi di sektor baterai dan penyimpanan energi? Tertarik untuk terhubung langsung dengan para pakar industri dan membuka peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan teknologi baterai masa depan? Registrasi sekarang dan hindari antrean saat pameran berlangsung dengan cara klik tautan berikut: Pra-registrasi di sini!

Pantau terus perkembangan terbaru mengenai teknologi baterai dan sistem penyimpanan energi melalui website resmi The Battery Show Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar pameran dan tren industri. Ikuti juga Instagram @thebatteryshowindo untuk mendapatkan update reguler serta insight menarik seputar masa depan kendaraan listrik dan energi bersih.


Referensi

  • Humas BRIN (2026, 10 Agustus). “Indonesia Innovator Lecture 2026: Aditya Farhan Arif Paparkan Strategi Kemandirian Teknologi Baterai Indonesia dalam Hakteknas ke-31”. Siaran Pers Resmi BRIN. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2026 dari https://www.brin.go.id
  • PT Industri Baterai Indonesia / IBC (2025). “Peta Jalan Industri Baterai Nasional: Dari Nikel hingga Sel Baterai. Strategi Hilirisasi Berbasis Inovasi”. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2026 dari https://www.ibc.id
  • BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (2025). “Peta Riset Nasional Teknologi Baterai: Prioritas Riset Material, Solid-State, dan Sodium-Ion untuk Indonesia”. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2026 dari https://www.brin.go.id