2 - 5 SEP 2026

Jakarta International Expo

1,2 TWh Kebutuhan Penyimpanan Energi Nasional untuk Transisi EBT Indonesia

Ketika pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) semakin berkembang, kebutuhan terhadap penyimpanan energi ikut menjadi perhatian. Pembangkit seperti tenaga surya dan angin memiliki karakter produksi yang bergantung pada kondisi alam, sehingga sistem kelistrikan membutuhkan teknologi yang mampu menyimpan energi ketika produksi tinggi dan menggunakannya kembali saat dibutuhkan.

Dalam konteks tersebut, Indonesia mulai menghadapi kebutuhan penyimpanan energi dalam skala yang jauh lebih besar. Angka 1,2 TWh menjadi gambaran besarnya kapasitas penyimpanan yang perlu dipersiapkan untuk mendukung sistem energi masa depan.

Penyimpanan energi kemudian tidak lagi sekadar berfungsi sebagai perangkat pendukung. Bagi sektor energi dan industri, teknologi ini berpotensi menjadi infrastruktur strategis yang menentukan fleksibilitas jaringan, integrasi EBT, efisiensi sistem, sekaligus membuka pasar baru bagi teknologi baterai dan solusi penyimpanan energi.

Mengapa Indonesia Membutuhkan Penyimpanan Energi?

Peningkatan pembangkit energi terbarukan membawa tantangan baru bagi sistem kelistrikan. Produksi PLTS, misalnya, meningkat ketika intensitas matahari tinggi, tetapi menurun ketika sore dan malam hari. Ketidaksesuaian antara waktu produksi dan kebutuhan listrik inilah yang membuat penyimpanan energi semakin penting.

Sistem penyimpanan dapat menyerap energi ketika pasokan berlebih dan melepaskannya kembali ketika permintaan meningkat. Dengan mekanisme tersebut, storage dapat membantu menjaga keseimbangan antara supply dan demand sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem kelistrikan.

Dalam skenario transisi energi Indonesia, kebutuhan storage memang telah masuk dalam perencanaan jangka panjang. Dokumen investasi JETP, misalnya, memproyeksikan kebutuhan kapasitas penyimpanan sebesar 4,3 GW pada 2030 dan meningkat menjadi 38 GW pada 2050.

Dari Baterai hingga Pumped Hydro

Teknologi penyimpanan energi tidak hanya bergantung pada baterai lithium-ion. Pilihan teknologi dapat mencakup Battery Energy Storage System (BESS), pumped hydro penyimpanan energi, thermal storage, hingga teknologi penyimpanan lainnya sesuai kebutuhan sistem.

BESS menjadi salah satu teknologi yang menarik bagi industri karena dapat ditempatkan secara modular dan merespons kebutuhan listrik dengan cepat. Sementara itu, pumped hydro memiliki potensi untuk menyediakan penyimpanan dalam skala besar dan durasi yang lebih panjang.

Pengembangan teknologi tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik sistem Indonesia. Faktor seperti durasi penyimpanan, kapasitas, biaya investasi, umur aset, lokasi, kebutuhan jaringan, dan ketersediaan sumber daya akan menentukan teknologi yang paling sesuai untuk suatu proyek.

1,2 TWh dan Peluang Baru bagi Industri

Kebutuhan penyimpanan energi dalam skala besar menciptakan ruang pertumbuhan bagi berbagai sektor bisnis. Peluang tidak hanya berada pada produsen baterai, tetapi juga mencakup integrator BESS, penyedia sistem manajemen baterai, EPC, perangkat kelistrikan, software monitoring, hingga jasa operasi dan pemeliharaan.

Pertumbuhan penyimpanan juga berpotensi memperkuat rantai pasok industri baterai Indonesia. Kebutuhan terhadap material, manufaktur sel dan baterai, sistem pendingin, inverter, power conversion system, serta komponen pendukung lainnya dapat ikut meningkat seiring bertambahnya proyek penyimpanan energi.

Di sisi sistem, storage dapat membantu mengurangi kebutuhan ramp rate yang tinggi ketika pembangkit energi terbarukan berubah-ubah. Studi JETP Indonesia juga menunjukkan bahwa penyimpanan dapat mengurangi kebutuhan respons cepat sistem ketika penetrasi energi terbarukan variabel meningkat. 

Tantangan Pengembangan Penyimpanan Energi

Besarnya potensi pasar tidak berarti pengembangan storage berjalan tanpa hambatan. Biaya investasi, degradasi baterai, keselamatan, standar teknis, integrasi jaringan, serta model bisnis masih menjadi sejumlah aspek yang perlu diperkuat.

Indonesia juga membutuhkan regulasi dan mekanisme pasar yang mampu memberikan kepastian bagi investor. Tanpa skema yang jelas mengenai bagaimana storage memperoleh pendapatan dari layanan sistem, proyek penyimpanan energi berpotensi menghadapi tantangan dalam mencapai keekonomian.

Oleh karena itu, pengembangan storage membutuhkan pendekatan ekosistem yang melibatkan pemerintah, utilitas, pengembang energi, produsen baterai, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, dan konsumen industri.

Dari Storage ke Infrastruktur Energi Masa Depan

Penyimpanan energi pada akhirnya bukan hanya tentang menyimpan listrik. Teknologi ini menjadi salah satu komponen yang memungkinkan sistem energi bergerak menuju jaringan yang lebih fleksibel, terdesentralisasi, dan semakin terintegrasi dengan EBT.

Bagi dunia industri, perkembangan tersebut menciptakan peluang pada rantai nilai yang luas. Mulai dari manufaktur baterai dan komponen, pembangunan BESS, software pengelolaan energi, hingga layanan operation and maintenance akan semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan storage.

Kebutuhan penyimpanan energi dalam skala besar menjadi bagian penting dari perjalanan transisi energi Indonesia. Angka 1,2 TWh menggambarkan besarnya ruang yang perlu dipersiapkan ketika penetrasi energi terbarukan terus meningkat.

Pantau terus perkembangan terbaru mengenai teknologi baterai dan sistem penyimpanan energi melalui website resmi The Battery Show Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini seputar pameran dan tren industri. Ikuti juga Instagram @thebatteryshowindo untuk mendapatkan update reguler serta insight menarik seputar masa depan kendaraan listrik dan energi bersih.

Referensi